Dilan 1990


Melihat sosok Dilan dalam bukunya ‘Dilan : Dia adalah Dilanku 1990’ seperti melihat remaja ingusan yang puitis-absurd tapi bisa bikin hati perempuan klepek-klepek. Terbukti, novelnya melejit dan dibaca dimana-mana, terutama oleh perempuan. Membayangkan sosok Dilan menjadi orang yang mendekati kamu awalnya pasti ilfeel (versi gue), soalnya ‘ni anak ngeselin banget, sumpah’ itulah impresi pertama ketika selesai membaca novelnya. Setelah 2-3 tahun novel itu terbit dan disusul 2 novel lainnya. Akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh para penggemar Dilan pun terwujud! DILAN HADIR KE MUKA BUMI!

Mendengar hal itu, awalnya gue nggak berekspektasi besar. Mungkin karena memang gue nggak begitu berharap akan sosok Dilan yang lahir ke muka bumi. Beberapa bulan sebelum di produksi, keluarlah nama-nama yang akan memerankan 2 tokoh utama yakni Iqbaal sebagai Dilan, dan Vanessa sebagai Milea. hhmmm….pertama-tama gue bingung, mengapa papa Pidi Baiq memilih Iqbaal? Gue juga nggak tahu, haha. Tapi, satu hal yang aneh menurut gue adalah ‘muka Iqbaal terlalu baik untuk jadi sosok Dilan’. Untuk Vanessa ya... well lah, karena memang Milea digambarkan cewek pindahan dari Jakarta dan wajahnya cantik, menurut gue Vanessa cukup memenuhi hal itu.

Dan setelah 2 minggu film Dilan hadir di bioskop, gue penasaran untuk melihat bagaimana Iqbaal memerankan sosok Dilan yang diekspetasikan sama diri gue. Tepatnya hari Jumat, 1 Februari 2018 gue menyaksikan sosok Dilan lahir ke muka bumi lewat Iqbaal. DAN……Jujur, menit-menit awal gue merasa aneh dengan intonasi naik-turun yang dibawakan Iqbaal. Mencoba ‘cool' tapi dipaksakan dan tidak terdengar alami. Ucapan-ucapan Dilan yang dibawakan Iqbaal tidak diharmonisasi dengan baik. Anjaaayyy banget ya ini analisisnya, haha. Ketika Iqbaal mencoba untuk menyesuaikan dengan mimik mukanya, menurut gue kurang tepat. Ekspektasi gue tentang Dilan 'tidak sampai’ hingga 45 menit film tayangkan. 

Dialog-dialog yang dibawakan pun seakan kurang greget dan kehilangann sebagian nyawanya dibandingkan ketika gue baca novelnya. Untungnya gue sedikit merasakan betapa ‘merindingnya' Dilan, pada akhirnya. Sayang, baru gue rasain di penghujung film akan berakhir, sekitar 30 menit terakhir. Padahal kekuatan Dilan adalah dialog-dialognya yang nyeleneh ketika merayu Milea dan caranya mengungkapkan kegilaan cinta dengan cara yang tidak biasa.

Tapi secara keseluruhan, film ini lumayanlah. Terutama untuk Ibu/Bapak yang ingin mengenang masa SMAnya ketika tahun 1990-an. Apalagi jika tempatnya di Bandung. Wah….nikmat bener! haha. Ada beberapa hal yang bisa gue ambil dari film ini. Pertama, ternyata perempuan memilih laki-laki yang tidak biasa, lihat saja Dilan jika dibandingkan dengan pacar Milea di Jakarta. Kedua, cara mendekati perempuan jika semakin tidak biasa, maka perempuan akan makin penasaran, entah tapi gue merasakan hal ini haha. Ketiga, hati-hati sama orang Bandung karena kadang suka bikin nyaman tanpa tahu kapan kamu mulai jatuh cinta ;)

Komentar