Terima kasih, masa lalu!

Ada satu titik dimana gue dulu ngerasa ga punya apa-apa yang bisa gue banggakan sebagai manusia. Sampai akhirnya tahun ketiga gue kuliah aka semester 5-7 gue dipercaya untuk menjabat salah satu kepala departemen di BEM FIB. Please, jangan sinis dulu. Kenapa gue bangga? Karena sejujurnya gue nggak percaya dengan kemampuan gue saat itu, tapi dua manusia ini yakni Izmu dan Irfan aka Ketua dan Wakil Ketua saat itu memercayai gue. Anehnya, gue mau. Satu sisi biar masa akhir kuliah gue nggak gabut-gabut amat, sisi lain gue masih pengen berkembang sebelum gue lulus kuliah.

Sebagai kepala departemen, hal pertama yang gue lakukan adalah mengonsep. Bagaimana arah medianya, staf pendukungnnya mau seperti apa, butuh SDM yang kayak gimana, sampai hal-hal kecil seperti penggunaan kebahasaan, cara bales komentar dan cara posting di saat-saat yang tepat. Gue mulai mengonsep dan ngobrol sama Izmu, BEM mau seperti apa tampilannya. Maksudnya, gue ngobrol bahwa gimana nanti media ini akan berjalan secara garis besar, si ketua maunya apa sih setahun ini. Setelah itu, baru gue bikin konsep teknisnya. Gue atur dari awal sampe akhir, gue ngobrol sana-sini buat nyari referensi. Terus gue tuangin konsepnya ke kertas, gue bikin mind map. Biar apa? Biar jelas, soalnya kadang-kadang gue blank kalo panik, hehe. Singkat cerita, open recruitmnet SDM dan dapetlah 14 orang yang mau untuk gue jadikan tenaga, skill dan kemauannya buat ngebangun media BEM saat itu.

Tiga bulan pertama adalah yang paling berat. Sering nangis, sering sakit, dan sering debat sama orang lain. Tapi, gue bersyukur saat itu. Berarti kerja gue ada respon dari orang-orang, minimal ngasih kritik. Menyempurnakan 13 media sosial BEM sembari mengonsep video, ngebuat postingan dan artikel acara secara bersamaan bukan hal mudah, asli. Lagi-lagi gue mesti terima kasih dengan staf gue yang mau gue recehin biar nggak stres, terutama mau gue manfaatin buat ngebangun BEM saat itu. Susah sih, parah. Baru terbiasa dan bisa menyesuaikan dengan ritme kerja dan drama organisasinya ya lima bulan. Setelah lima bulan, karena udah tau dan udah ngerasa ahli nih karena terbiasa seolah-olah 'ya udah aja'. Anak-anak juga udah tau jobdesknya, udah tau teknis dan alurnya jadi gue bebasin pun masih jalan. Untungnya anak gue baik-baik dan kreatif, terbaiklah!

Masuk periode kedua, banyak pembenahan. Pembaharuan konsep sampai perombakkan SDM. Biar orang-orang yang menantikan media BEM nggak bosen nih, akhirnya kita bikin iklan layanan masyarakat. Koordinator video gue saat itu aka Pemimpin Redaktur Kabar Budaya, Radit ngomong kalau 'keknya bikin iklan asyik nih'. Bikinlah kita dan ya diapresiasi dengan meriah. Sampe penghujung akhir periode, sekalipun sedih dan dramanya banyak gue sangat bersyukur. Di sini gue bener-bener belajar keluar dari zona nyaman yang justru membuat gue kuat dan belajar banyak hal. Bukan hanya perihal teknis dan soft skill tapi juga bagaimana ngadepin orang dengan karakter yang beda-beda dan menyesuaikan dengan karakter kita. Bagaimana negur orang tanpa nyakitin dan bagaimana diskusi atau debat tanpa menyudutkan satu pihak.

Postingan ini gue khususkan untuk orang-orang berjuang pada masa ini. Arthasastra, kalian memang memberi gue banyak hal, sering sekali gue bilang. Gue nggak akan bisa kayak gini kalau bukan karena masa ini. Terima kasih, masa lalu!

-Periode boleh berakhir, tapi ceng-cengan kita abadi-


Komentar