Menuju S.Hum : Jalan Panjang yang Menemukan Akhir (2)

Setelah minggu lalu gue cerita dari awal semester 6 sampai sidang UP. Nah, kali ini gue bakal lanjutin dari sidang UP sampai sidang akhir. Terus, gue juga bakal buat postingan kehidupan dan kebiasaan gue pascalulus. Makanya, pantau terus ya! Siapa tau makin sayang~

Ok, setelah sidang UP gue pun masih banyak yang mesti dibenahi. But unfortunately, gue mendapat dosen pembimbing yang sebenernya bukan harapan gue. Ya mau gimana lagi, show must go on istilahnya. Pantang menyerah sebelum selesai berperang, siapa tau gue dilancarkan dalam mengerjakan skripsweet ini. Ngomong-ngomong, dasar kebiasaan gue yang jelek nih. Gue nggak langsung revisi gitu setelah sidang UP. Gue malah traveling dulu ke Malang seminggu (tunggu ya ceritanya). Habis itu gue berleha-leha selama sebulan di rumah. Bener-bener nggak nyentuh skripsweet sama sekali, cuman tidur-makan-kamar mandi-ruang tv-tidur lagi. Sesekali bantu Emak-Bapak jaga toko, itupun kadang-kadang. Gue baru bener-bener menyentuh laptop untuk mengerjakan skripsweet ini bulan Januari akhir. Please jangan dicontoh, hehe.

Setelah gue tersadar bahwa gue banyak berleha-leha, gue pun coba untuk menyelesaikan BAB II-BAB III sebulan. Karena memang skripsweet gue ini kualitatif dan objeknya hanya buku. So, hanya butuh analisis dalam dari tiap masalah yang akan gue urai. Singkat cerita, tidak lepas dari malas-malasan gue, akhirnya ini skripsweet selesai di akhir bulan Februari. Gue pun dengan 'pede' menemui dosen pembimbing untuk menyerahkan BAB II-BAB III ini. Nggak disangka, dosen pembimbing gue melihat masalah di BAB II-nya. Intinya, gue sama dosen gue ini beda fandom teori. Gue pake teori A sedangkan dosen gue lebih condong ke teori B. Disinilah masalah mulai terasa, gonjang-ganjing perdebatan nih. Ya bayangin aja, gue udah selesai analisis tiba-tiba dirombak lagi. Masalahnya ini 70 komik lebih gue analisis loh. Sampe bukunya aja rusak gue bolak-balik mulu tiap hari.

Okelah, dengan perdebatan yang hampir terjadi setiap gue bimbingan karena gue merasa paling benar akhirnya gue ngalah. Iya, gue rombak lagi dan gue analisis lagi pake teori yang beda. Nggak apa-apa, namanya juga hidup. Setelah drama ini, nyatanya masih ada lagi.

Bulan Maret, gue berencana untuk sidang bulan ini. Draft final skripsweet gue belum selesai secara baik. H-3 penutupan, gue belum dapet acc dari dosen pembimbing. Bayangin H-3 penutupan daftar sidang, dengan nekad sekalipun belum dapet acc gue lobbying aja ke petugas administrasi. Gue menjanjikan kalau bakal dapet sebelum jatuh tempo penutupan. Yap, untungnya lobbying gue berhasil, masalahnya nih gue mesti dapet acc sebelum ditutup. PR banget tuh waktu itu.

Menjelang H-1 gue masih harus revisi daftar pustaka. Iya, dosen pembimbing gue pun tetep nggak mau acc draft gue. Akhirnya dengan segala kepanikan yang menyelimuti gue, semaleman gue begadang buat revisi. Besoknya gue dateng ke dosen pembimbing gue buat minta acc. Untungnya dosen gue melihat betapa bekerja kerasnya gue waktu itu. Acc lah draft gue, tapi baru besok beliau bisa tanda tangan. Iya, hari itu penutupan daftar sidang dan gue belum dapet acc. Tenggelamkan saja Hayati di rawa-rawa~

Besoknya gue nunggu beliau selama 1 jam tanpa kepastian. Untungnya beneran dateng ya, soalnya udah lewat tenggat waktu dan gue masih belum acc. Segala drama ini ingin aku akhiri saja.

Selesailah gue dengan per-acc-an saat itu. H-3 sidang gue dag-dig-dug nggak karuan. Salah satu penguji gue adalah orang yang benar-benar ahli sama masalah yang gue ambil. Bahkan dia tuh expert parah di bidang ini, gelar doktornya aja tentang bidang ini dan lulusan luar negeri. Siap dibantai aja gue nanti sidang. Udah mikir, sepahit-pahitnya minimal jangan C bangetlah nilai gue.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari H sidang. Gue persiapkan segala hal yang perlu dibawa malem sebelumnya, gue setrika semua keperluan gue mulai dari ujung atas kepala-ujung kaki. Kecuali sepatu ya, masa gue setrika...sepatu gue semir lah, hehe. Dari pukul 08.00-14.00 WIB gue dan rekan-rekan gue diuji. Dengan segala gundah gulana dan drama yang selama ini gue rasakan, gue ingin teriak setiap kali ditanya penguji pas sidang. HAHAHA HAYATI INGIN CEPAT INI BERAKHIR.

Pukul 14.00 WIB kami yang sidang hari itu diinstruksikan masuk ruangan untuk mendengar nilai-nilai yang akan diberikan oleh dosen pembimbing dan penguji. Pokoknya ya udahlah ya, terima nasib aja. Usaha udah, doa udah, tinggal hasilnya. Dengan diiringi muka-muka tegang, dibacakanlah nilai-nilai itu satu persatu. DAN.....GUE DAPET "A" DONG!! Iya! Gue dapet "A" dan nilai keseluruhan gue cumlaude alias dengan pujian. Ya Tuhan, ingin aku peluk tembok-tembok di dekanat FIB, haha.

Hari itu juga gue merasakan kalau gue benar-benar akan hengkang dari Unpad. Tiga sekian tahun yang membuat gue tumbuh dan berkembang dengan berbagai hal yang gue dapat. Mulai dari teman kuliah, teman organisasi, teman julid sampai teman nongkrong. Banyak hal yang nggak bisa gue gambarkan betapa Unpad memberikan banyak kenangan tanpa gue sadari. Serta, Jatinangor adalah tempat yang akan gue rindukan dalam masa-masa gue selanjutnya. Betapa Unpad dan Jatinangor adalah hal yang mengubah segala hal cara pandang gue selama kuliah.


Akhirnya gue alumni Unpad dengan gelar S.Hum yang melekat di belakang nama lahir gue. Gelar yang menurut gue akan selalu gue jadikan bahan introspeksi diri. Gelar ini bukan hanya harus berguna untuk diri gue, bukan hanya berguna untuk keluarga gue tapi juga lingkungan dan masyarakat sekitar gue, lebih besarnya berguna dan membawa perubahan untuk Indonesia. Gelar ini adalah tanggung jawab moral terhadap negara, bahwa di pundak-pundak para sarjana inilah nantinya kepemimpinan masa depan akan di topang. Lantas mau kita jadikan apa masa depan Indonesia selanjutnya? Iya, bergantung kita.

Yuk, sama-sama berjuang untuk Indonesia.

Komentar