Love, Simon


Ketika kamu berbeda, apa kamu salah?
Apakah ketika kamu berbeda, kamu tidak boleh mendapatkan part terbaik untuk hidupmu?
Simon will answer....


AWAS SPOILER!

Awal film Love, Simon sendiri disuguhkan narasi dari tokoh utama yakni Simon Spier yang menceritakan mengenai kehidupan 'normal' sehari-hari dengan keluarganya. Kemudian beralih kepada teman-teman Simon di sekolahnya. Yes, Simon is just like you! Totally have perfect normal life, except he has one huge secret. His gay!

Dari awal cerita, Simon sudah mengakui jika dirinya gay kepada penonton melalui narasinya. Namun, ia tidak mengungkapkan hal tersebut kepada orang-orang yang ada dalam kehidupan nyatanya dalam film. Simon justru berusaha untuk menghindari agar tidak mengungkapkan hal itu. Apakah ia malu? (akan dijawab di akhir film), apakah ia merasa berbeda? Untuk awal hingga pertengahan film, iya. Simon merasa berbeda dari orang-orang sekitarnya. 

Pikiran berkecamuk dalam benak Simon mengenai label gay yang membuatnya tidak percaya diri. Ia melihat temannya di sekolah yang terang-terangan mengakui gay namun di bully, ayahnya yang sedikit sinis dengan gay dan hal lain yang diungkapkan secara tidak langsung dalam film. Namun, tiba-tiba ada seseorang bernama 'Blue' yang mengungkapkan jika diri gay di website khusus siswa di sekolahnya, Creek Secret. 

Melihat postingan itu, Simon seolah-olah menemukan "teman seperjuangan". Simon pun berani menghubungi Blue lewat email. Kedekatan dan keakrabannya dengan Blue semakin menjadi, mereka semakin intens berkirim pesan. Sayangnya, salah satu teman sekolahnya, Martin berhasil menemukan fakta jika Simon gay. Simon tidak sengaja meninggalkan komputer sekolah tanpa me-log out emailnya dan Martin menemukan percakapan antara Blue dan dirinya. Karena hal itu, seolah temannya ini ingin "memeras" Simon yakni meminta agar Simon mendekatkan dirinya kepada Abby, salah satu sahabatnya. Jika tidak, maka Martin akan membocorkan tentang jati diri Simon ke seluruh siswa di sekolah mereka.

Konflik pun mulai memuncak dari kejadian itu. Karena "pemerasan" yang dilakukan temannya, ia pun semakin menyembunyikan jati dirinya. Hingga ada konflik besar yang dialaminya ini mendekati resolusi. Sayangnya konflik besar dalam Love, Simon ditempatkan hampir di akhir film, sehingga kurang terasa greget dalam eksekusinya. Resolusi yang ditawarkan pun terkesan singkat dan ya...gampang ditebak. Namun, film ini cukup baik dalam menyampaikan keresahan Simon yang dalam masa transisi (menuju dewasa) yang menyembunyikan bahwa dirinya gay karena takut tidak diterima oleh lingkungannya. Jujur, gue suka sinematografi film ini. Sederhana, cerah dan enak dilihat mata. Hanya kekuatan aktor/aktris pendukung dalam film ini tidak dimaksimalkan dengan baik. Padahal mereka dapat membangun cerita Simon dan keresahannya lebih dalam.

Dikutip dari detikhealth jika manusia paling takut dengan 7 kondisi ini yakni (1)kematian; (2)kegagalan; (3)takut ditolak; (4)takut gelap; (5)jatuh dari ketinggian; (6)kehilangan orang yang disayangi; dan (7)takut miskin. Seperti yang diungkapkan jika takut ditolak adalah kondisi setiap orang ingin kehadirannya diterima, baik oleh lingkungan maupun orang yang disayangi. Beberapa orang bahkan ada yang begitu tergantung pada pengakuan, persetujuan atau penilaian orang lain terhadap dirinya sendiri. Orang-orang ini begitu didorong oleh kebutuhan untuk diterima sehingga kehilangan identitasnya sendiri. Beberapa orang kemudian menarik diri karena takut ditolak. Mereka ini akhirnya menjauhkan diri dari teman-teman dan keluarganya.

Penolakan oleh lingkungan adalah salah satu hal yang paling menyiksa. Karena seseorang seolah-olah akan 'diasingkan' dari dunia yang semestinya ia ada di sana. Lantas akan seperti apa? Oke, dengan menurut gue pasti bakal stres dan hampa hidupnya. Bayangin, seolah-olah udah nggak ada harapan lagi, kan manusia hidup dengan bersosialisasi. Jika kita terasing dalam lingkungan dan merasa tak berdaya, ujung-ujungnya kehilangan harapan (hasil analisis amburadul gue). Seperti Simon ini, dia tidak ingin diketahui dirinya gay karena ia tidak mau diasingkan oleh lingkungannya. Penyebabnya, ia merasa berbeda karena gay dan sikap mentalnya yang merasa malu dan tidak percaya diri akan kondisi tersebut. Disini kita akan tahu, label yang disematkan kepada seseorang akan sangat berpengaruh.


Menyaksikan Love, Simon jadi teringat film Call Me By Your Name yang merupakan nominasi di Oscar 2018. Keduanya sama-sama mengangkat menganai gay namun dari sisi yang berbeda. Love, Simon menyajikan tema ini lebih ringan dan dekat dengan kehidupan remaja masa kini. Dibumbui dengan konflik-konflik khas remaja tanggung dan keresahan-keresahan yang dialami mereka. Tidak terlepas, teman-teman Simon pun punya masalah masing-masing hanya saja porsinya lebih sedikit dari Simon sendiri (ya iyalah kan pemeran utamanya Simon, haha).


Sutradara: Greg Berlanti
Penulis: Elizabeth Berger, Isaac Aptaker, Becky Albertalli (berdasar novel Simon vs. the Homo Sapiens Agenda)
Pemeran utama: Nick Robinson, Katherine Langford, Alexandra Shipp, Jorge Lendeborg Jr.,  Keiynan Lonsdale, Logan Miller, Josh Duhamel, Tony Hale, Jennifer Garner 
Rating umur: 13+
Genre: Komedi, Romantis, Drama
Studio: 20th Century Fox
Tayang: 16 Maret 2018 (Bioskop), 29 Mei 2018 (disk/streaming)

Rating film:
IMDB 7,9/10
Rotten Tomatoes 7,4/10
Metacritic 72
Roger Ebert 3,5/4

Komentar