Melawan Takut dengan Naik Gunung Parang


Ketakutan mesti dilawan, iya asal jangan kelewatan. Entah ini kelewatan apa udah gila nggak punya pikiran, jadi ya udahlah ya.

Awal mula tertarik untuk nyoba ke Parang karena foto-foto di instagramnya bagus. Sesederhana itu, penasaran juga sih walaupun gue TAKUT KETINGGIAN. Modal nekat dan ingin menantang ketakutan sendiri, berangkatlah ke sana. Dadakan merencanakan h-3 bahkan gue masih demam saat menghubungi teh Ceuceu yang jadi guide untuk naik ke atas gunungnya. Sekaligus ingin nyoba sensasi baru, berhubung tanggal 24 Juni ini memang akan melangkah ke dunia baru yang sangat di luar zona nyaman. Akhirnya dengan logika asal-asalan gue yang menganggap kalau gue bisa menghadapi ini (alias naik tebing padahal takut ketinggian) Insyaallah akan baik-baik saja pas pekerjaan nanti. 

Gue sedikit survey di berbagai media sosial. Ah, banyak anak-anak dan ibu-ibu yang ikut kok. Bisa lah! Pokoknya maneh bisa, Syif. Udah. H-2 gue nyoba lari kecil-kecilan di rumah biar nggak kaget banget pas naik gunung nanti. Maklum badan terakhir diajak manjat tahun 2016 akhir, jadi sangat tidak mengandalkan kondisi fisik tanpa persiapan. Apalagi ini bakal naik tebing istilahnya, kalo di gunung tanah masih bisa ngaso-ngaso. Lah ini, kan kalo pingsan di atas repot juga yak -_-

H-1 gue intens kontak teh Ceuceu sekaligus pemilik @ceuceutravel di Purwakarta. Sebenarnya dari Karawang ke Purwakarta cuman 30 menitan, tapi dari kotanya itu ke Parangnya sekitar 60 menit lagi. Maklumlah, 28 km dari Kota Purwakarta. 

Gunung Parang ini terletak di Kampung Cihuni, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta. Kalau rombongan enak naik mobil, karena jalannya pun lumayan bagus dan bisa diakses dengan nyaman. Bawa motor juga nggak masalah sih, cuman biar nggak habis tenaga di jalan aja, hehe. Buat masuk ke area Parang itu bayar Rp 5.000 buat mobil/motor. Ngomong-ngomong ini pengelolanya warga sekitar jadi bisa tanya-tanya kok dan ngobrol-ngobrol santai. Kalau nggak ingin naik pun ada saung-saung yang menyediakan makan, jadi kalau ngajak orang tua atau anak-anak juga bisa tanpa mesti naik ke Gunung Parang.

Untuk naik tebingnya harus pakai pengaman. Ya iyalah, masa mau naik tangan kosong? Menantang maut banget lo. Pakai helm, tali + karabiner yang diikatkan di pinggang (lupa namanya), sarung tangan dan sepatu. Trek naiknya hampir 90° kemiringan, siap-siap kayak naik tangga beneran tapi dibawahnya nggak ada apa-apa.

Gue di bawa trek biasa dulu sampai 100 meter ketinggian, pas lihat bawah yang gue pikirkan cuman "Gila, goblok lu Syif. Ngapain di sini?". Nggak percaya gue mau dan berani naik ini gunung yang cuman bisa gue bayangin doang. Singkat cerita, sampailah gue di awal pendakian, gue melihat tebing setinggi gedung dengan tangga-tangga besi. Aslian, edan pisan urang poe eta! Gue pun di briefing dulu bagaimana alat ini akan berperan dengan keselamatan jiwa dan nyawa gue selama di atas sana. Pindah alatnya gimana, kalau ada angin kencang gimana dan pencegahan-pencegahan bencana lain selama di atas. Pokoknya pas teh Ceuceu ngejelasin gue nggak sadar aja, karena nggak percaya. Atau entah guenya bego karena tiba-tiba blank.

Pukul 11.30 gue pun naik. Teh Ceuceu duluan biar tau jalurnya, karena jalur naik Parang ini banyak dan tingkat kesulitannya beda-beda. Teh Ceuceu milih jalur yang biasa dulu, kalau udah 2-3x nanti diajak yang ekstrem ceunah, anjay emang maneh wani kitu? Hahaha


Oke, 50 meter awal gue masih nggak percaya naik tebing. Mulai naik ke 100 meter dan nggak kelihatan tanah ditambah tempat celah tebing mulai sedikit. Di situ gue mulai percaya, iya Syifa lagi naik tebing. Tiba di celah tebing 100 meter yang berarti 200 meter dari bawah. Pas lihat bawah cuman bisa istighfar sebanyak-banyaknya, ingat dosamu selama di dunia wahai budaq dunia! Muka udah mulai merah, mau nangis tapi nggak mungkin. Syifa kudu kuat, ayo masih 150 meter lagi buat pemberhentian. 

Singkat cerita, sampai tebing 350 meter dan teh Ceuceu mulai ngajak foto-foto di mana gue hanya bisa senyum tegang. ASLI! INI UJUNG TEBING BRAY -_- Gue mulai menyebutkan diri sendiri BODOH di sana, berulang-ulang. Perasaan takut jatuh dan pasrah mulai menyeruak, ya Tuhan untuk pertama kalinya gue takut mati! Teh Ceuceu mulai ngerjain juga nih di sini. Disuruh trek yang mengelilingi Parang, istilahnya "meper" alias treknya menyamping. Ini tebingnya bener-bener tegak 90° ASLI! Kebeneran anginnya malah ikutan kencang, Wassalam ya Allah. Hamba serahkan semuanya padaMu. Dibawah bener-bener langsung tanah, nggak ada apa-apa. Tumpuan hanya besi tangga dan tali pengaman ke tebing, udah. Segala nama Tuhan gue sebut di sana. Takut, pengen nangis, pengen cepat udahan tapi gimana? Ini masih panjang!




Dengan tenaga sisa dan kaki gue yang maha dahsyat gemetar gue pun lanjutin trek ini. Akhirnya kurang 60 menit kemudian sampailah ke trek turun. Gue kira turun bakal gampang ya, nyatanya salah besar. Butuh keseimbangan dan kerja sama yang baik antara tangan yang mesti mindahin tali ke kanan/kiri, mengaitkan ke tali tebing dan kaki yang melangkah ke bawah mencari anak tangga untuk dipijaki. Entahlah, kaki gue saat itu gimana rasanya udah gemeteran parah!

60 menit kemudian gue habiskan untuk turun tangga ini. Total waktu dari awal naik-turun 2 jam, kata teh Ceuceu sih lumayan cepet (mungkin karena gue pun udah pernah naik tebing-tebingan dan pernah naik gunung jadi langkah gue lumayan, ditambah saya masih muda jadi ya..... sans lah). Ngomong-ngomong trek awal ini hanya 400 meteran. Mau lanjut tapi kesorean, jadi ya sudahlah lain kali saja ya. Ini salah satu pengalaman hidup yang absurd entah-kenapa tapi mengasyikkan. Kalau dipikir-pikir pengen lagi, tapi kalau gue masih kayak kemaren mending beraniin dulu aja dulu dah! Biar 950 meter full!

NB : Terima kasih untuk Teh Ceuceu yang mengabadikan setiap momen di atas, ah aku buka handphone untuk foto saja tidak mampu di atas sana :(

Komentar