#ThoughTalks : Problematika Kesehatan Mental, Tanggung Jawab Siapa?



Aku tergelitik untuk menulis tentang kesehatan mental, karena dalam sepekan aku mendengar 2 orang dari kampusku di Bandung gantung diri dikosannya. Ketika aku membaca latar belakang mereka, nyatanya, mereka bukan orang yang terlalu tertutup. Bahkan salah satunya, aktif di empat kegiatan ektra kampus. Dari sana aku pun berpikir bahwa kesehatan mental adalah masalah bersama. Kesehatan jiwa perlu ditanggapi dan ditanggung oleh setiap yang berjiwa.

Bagi masyarakat urban, terserang depresi layaknya bagian dari resiko. Tuntutan hidup yang tinggi, lingkungan yang keras ditambah kepekaan sosial yang masih tabu soal hal ini. Hal itu membuat lingkaran setan yang mendukung agar seseorang kehilangan nyawanya setelah depresi berat menahun. Menurut penelitian, Jakarta adalah salah satu kota dengan peningkatan ganguan jiwa terbesar. Belum lagi, baru-baru ini kota metropolitan juga didapuk jadi salah satu kota intoleran. Lantas mau apa lagi kau hidup di sini? Bahkan dalam bukunya Ratih Kusmini berjudul Wesel Pos menyebut "hanya orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta". Abaikan, intermezzo.

Sebagai sesama mahluk berjiwa, aku rasa ada satu hal yang saat ini rerata masyarakat mulai tidak sadar hal kecil tapi penting untuk dilakukan. Mendengarkan. Iya, dengan mulai mendengarkan ditambah lagi mengamati orang-orang terdekat kita untuk bisa mendeteksi soal kemungkinan depresi yang dialami. Jangan anggap remeh depresi, mungkin awalnya tak akan terlihat, tapi coba perhatikan, orang terdekatmu bisa lenyap karena hal ini.

Berdasarkan data yang dikeluarkan World Health Organization (WHO) pada 2012, sebanyak 804.000 kematian di dunia disebabkan oleh bunuh diri setiap tahunnya. Secara global, tingkat rasio bunuh diri adalah 11,4 orang per 100.000 penduduk. Di Indonesia sendiri, pada 2012, rasio bunuh diri menurun menjadi 4,3 orang per 100.000 penduduk dan tergolong rendah di antara negara ASEAN lainnya.

Mengutip laporan dari tirto.id dalam Statistik Bunuh Diri dan Darurat Kesehatan Mental bahwa pada titik tertentu, depresi dapat berujung pada bunuh diri. Data yang dikeluarkan oleh WHO pada 2012 memperkirakan terdapat 350 juta orang mengalami depresi, baik ringan maupun berat. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia pada 2013, menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional —yang ditunjukkan dengan gejala depresi dan kecemasan— adalah sebesar 6 persen untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta orang.

Ngomong-ngomong, artikel tirto tersebut layak banget di baca!

WOW.

Punya guncangan secara mental, aku yakin tidak ada orang yang ingin merasakan hal itu dalam hidupnya. Walaupun penyebab bunuh diri tidak selalu depresi dan kesehatan mental, tapi setidaknya depresi adalah pemicu terbesar bagaimana seseorang mau menghakhiri hidupnya.



Menurut dr. Nova Riyanti Yusuf SpKJ, yang dikutip dari femina.co.id dalam Kenali Depresi Pada Anak Sejak Dini Lewat Kuis Singkat Ini, faktor-faktor psikososial seperti tingkat pendidikan, urbanisasi, akses pelayanan kesehatan primer, serta minimnya pemahaman keluarga tentang kesehatan jiwa dapat memicu problem emosional dan perilaku remaja urban.
“Tidak setiap bunuh diri disebabkan oleh gangguan jiwa. Namun, menurut data WHO tahun 2014, 80-90 persen remaja yang meninggal karena bunuh diri mempunyai psikopatologi signifikan seperti problem mood, problem kecemasan, problem perilaku, dan penyalahgunaan narkotika"

Ngomong-ngomong (lagi), gangguan mental atau depresi tidak hanya dirasakan oleh kaum dewasa aja loh. Remaja dan anak-anak pun bisa, jadi masih menganggap ini bukan tanggung jawab bersama? Utamanya remaja dan anak-anak yang bertahan hidup dalam lingkungan tidak sehat seperti kekerasan dalam rumah tangga. Kerentanan ini akan bertambah besar jika tidak ada edukasi yang mendukung dan orang yang peduli dengan mereka.

Percayalah, dengan mulai mendengar hari ini, kamu bisa menyelamatkan satu nyawa mahluk Tuhan.

Semakin ngeri, pas tahu kalau nyatanya, kadang orang yang mengalami depresi justru terlihat biasa-biasa saja di depan banyak orang atau bahkan justru terlihat ceria. Namun, pasti, setiap depresi selalu ada tanda-tanda yang menyertai. Menjadi suatu kewajiban bagi kita untuk mengenali ini, tolong mereka.

Melansir dari Kompas.com dalam artikel Mengenali Orang yang Memiliki Kecenderungan Bunuh Diri, teman-teman bisa membantu orang terdekat atau masyarakat lingkungan sekitar jika mengalami tanda-tanda seperti di bawah ini.

1. Merasa tidak punya harapan
Hal ini adalah gejala paling umum pada orang-orang yang menderita depresi. Orang-orang yang memikirkan tentang bunuh diri sering merasa terjebak atau tidak memiliki harapan terhadap suatu situasi. Tidak adanya harapan dapat menyebabkan seseorang memiliki perasaan negatif terhadap kondisi saat ini dan bahkan ekspektasi terhadap masa mendatang.

2. Perasaan sedih dan moody yang ekstrem
Memiliki mood swings, yaitu merasa senang secara ekstrem dan sedih secara mendalam pada keesokan harinya. Menghadapi kesedihan pada waktu yang berkepanjangan dapat membuat stres. Kesedihan yang berlebihan adalah penyebab utama kencenderungan untuk bunuh diri.

3. Masalah tidur
Tidur adalah salah satu cara otak untuk memperbaiki kerusakan dan melancarkan fungsi. Orang yang mengalami masalah tidur secara berkepanjangan dapat mengalami cedera pada otak yang tidak dapat diperbaiki. Tidak dapat tidur adalah salah satu risiko berbahaya yang terkait dengan rasa ingin bunuh diri.

4. Perubahan pada kepribadian dan penampilan
Perubahan pada perilaku dan penampilan adalah tanda-tanda yang terlihat pada orang yang memikirkan bunuh diri, seperti berbicara dengan pelan, makan berlebih, tertarik dengan kematian atau kekerasan. Orang ini juga tidak memperhatikan penampilan mereka yang berdampak buruk. Beberapa orang mengalami perubahan pada rutinitas, seperti pola makan atau tidur.

5. Perasaan terisolasi
Orang-orang yang berencana untuk bunuh diri tidak ingin berinteraksi dengan keluarga atau teman. Mereka menarik diri dari kontak sosial dan ingin sendirian. Mereka biasanya memilih untuk tinggal sendirian dan menghindari aktivitas publik. Selain itu, mereka juga kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang dulu mereka senangi.

6. Perilaku menyakiti diri sendiri
Mereka mulai memiliki perilaku yang berpotensi bahaya, seperti penggunaan alkohol atau obat-obatan berlebih, berkendara dengan sembarangan, atau terlibat dalam hubungan seks yang tidak aman. Mereka tampak tidak peduli terhadap keselamatan mereka atau tidak lagi menghargai hidup mereka.

7. Pikiran ingin bunuh diri
Kebanyakan orang yang berpikir untuk bunuh diri memberikan tanda-tanda pada teman atau keluarga, seperti mengucapkan salam perpisahan pada orang-orang seperti mereka tidak akan bertemu lagi.

Mereka juga dapat mengulangi kalimat-kalimat seperti “saya ingin bunuh diri saja”, “andai saya mati saja” atau “andai saya tidak pernah dilahirkan”.

Mereka juga dapat mempersiapkan kematian mereka, seperti membeli pistol atau mengumpulkan obat-obatan, atau memberikan benda kepunyaan mereka, atau terlibat dalam masalah agar tidak ditemukan penjelasan yang logis terhadap bunuh diri.

Nah, itu dia teman-teman yang bisa aku share kali ini. Yuk, kita sesama mahluk yang memiliki jiwa mesti ada disamping mereka, buat mereka tidak merasa sendirian dan kesepian. Kita ada untuk mereka, bersama, kita saling tolong.



PS

Komentar