Tentang Diri Sendiri, dan Apa itu Kebahagian Hakiki

Photo by Melissa Askew on Unsplash
Diawali dengan pesimistis, aku menulis blog ini di subuh buta tepat pukul 05.10 WIB tanggal 13 Januari 2018. Dengan berbagai kegalauan yang ku rasa lalu-lalu, akhirnya aku berani muncul ke permukaan lagi. Hahaha, kadang kehendak semesta memang hanya perlu ditertawakan, sayang tertawa diatas kenyataan tak semudah itu, Ferguso :")

Banyak nyatanya, rencana atau dalam hal ini hanya jadi wacana tahun 2018. Ingin belajar lettering dan water color yang tak kunjung ada niat, ingin menjelajah Jawa via darat pun tak sampai, bahkan pergi ke festival kebudayaan di Dieng pun hanya sekedar omong kosong. Betapa rencanaku tak pernah ada yang becus untuk aku benar-banar laksanakan. Semuanya perihal kebahagiaan orang lain yang aku kejar di tahun lalu. Lantas 2019 mau kau jadikan apa? Pertanyaan yang cukup sulit.

Dengan kebegoan yang aku rasa masih ada dalam diri, aku pun mulai meresahkan hal-hal yang mestinya, mungkin orang anggap tak perlu ambil pusing. Cuman anaknya saking ngidenya jadi kepikiran terus, akibatnya sering insomnia dong! Parah, benar-benar pernah 2 hari tidak tidur dan hamba harus kerja keras (saat itu) bayangkan betapa yang lelah tak hanya fisik, tapi juga batin cuy :")

Beruntunglah kalian-kalian yang kadang sudah menemukan tujuan 'hidup' sebagai seorang manusia yang hadir ke Bumi ini dengan cepat. Atau sesederhana bisa bahagia aja sehari hahaha. Karena nyatanya, aku tidak sepintar itu untuk memahami diriku sendiri. Puncaknya, aku kerap sedih dan nangis tanpa sebab. Bahkan temanku sempat ingin membawaku ke salah satu psikolog yang ada di Jakarta karena kondisiku yang benar-benar down saat itu. Bahkan aku sudah tidak tahu, apakah ada hal di dunia ini yang bisa membuatku bahagia? Sumpah, kayak kufur nikmatkan jatuhnya? Tapi, serangan psikologis tidak semudah itu untuk dihadapi.

Untungnya, masih ada yang menguatkan dan melihat kondisiku dari berbagai perspektifnya, Tuhan memang belum terlalu jauh nyatanya. Untungnya pula, aku bisa untuk menanggulangi itu dan menggantinya atau mengubahkan dengan sesuatu hal yang menyenangkan. Salah satu terapinya adalah keluar dari salah satu media sosial yang paling memengaruhi perilaku dan pola berpikir diri sendiri, Instagram.

Aku tidak menyalahkan Instagram, buktinya banyak orang yang bisa memanfaatkan itu jadi hal yang berguna. Hanya saja, efeknya ke aku adalah aku jadi terobsesi dengan 'bahagia fiktif' orang lain. Beneran. Emang anaknya semilenial itu :") jadi ya, aku berusaha untuk tidak terpaku akan standard orang lain, log outlah aku dari media sosial jahanam untuk diriku itu. Tak butuh waktu lama, nyatanya, jujur hidupku lebih tenang :") BENERAN.

Aku tidak pusing melihat kehidupan orang-orang, aku tidak pusing dengan pendapat dan perkataan orang-orang. Sekalipun untuk beberapa saat aku harus merelakan brandingku di sana diseka sejenak. Ya, tak apalah selama memang aku merasa bahagia. Lantas apakah aku akan kembali ke Instagram? Tentu, tapi nanti, entah kapan.

Sampai tulisan ini terbit aku masih bahagia tidak melihat gaya hidup orang-orang hanya dari layar ponsel. Jadi, untuk kamu yang orangnya tidak bisa-tidak peduli layaknya aku, cobalah untuk log out dari media sosial yang paling mempengaruhimu dulu. Ada dunia lebih indah di depan matamu daripada sekedar pameran foto kehidupan bahagia fiktif orang lain dalam layar kecil itu.


PS

Komentar