Review Film Aladdin (2019): Jasmine Bukan "Princess" Biasa (SPOILER ALERT!)

review aladdin 2019 baru

Disney kini tengah gencar-gencarnya memperkenalkan karakter princess mereka lewat live action. Mungkin ingin mengenalkan generasi Z dengan princess-nya yang notabene keluar pertama tahun 1940-an. Wajar saja memang, sebagai studio film dengan provit tak terhitung Disney ingin mengakarkan kekuasaannya lewat film-film andalan.

Sebenarnya, gebrakan Disney soal bagaimana perempuan dicitrakan tidak hanya pada Aladdin (2019). Sebelumnya, ada Moana (2016) yang sekiranya sudah menggebrak bahwa "putri cantik, pendiam, penurut" adalah seperti Cinderella atau Putri Salju. Moana bahkan mencitrakan sosok princess yang diluar dengan "identitas" yang melekat selama ini. 

Hal yang membuatku tergelitik untuk mereview dan mengambil sudut pandang berbeda tentang Aladdin yang diremake menjadi live action adalah karena adanya adegan di Aladdin (2019) mengenai putri Jasmine yang seharusnya tidak ada dalam versi kartun tersebut tahun 1992. Aku rasa, pikiran awalku adalah Disney hanya berusaha mengikuti perkembangan zaman. Namun, rasanya tidak sependek itu narasi yang ingin dihadirkan.

Sebelum membahas part tersebut, mari kita ulas dulu sisi lain film ini!

Sinopsis

Aladdin (2019) bercerita tentang Aladdin, seorang rakyat biasa yang hidup dijalanan di sebuah daerah bernama Agrabah. Aladdin ini juga seorang penguntit dan pencuri ulung yang hidup sebatang kara dan hanya ditemani oleh monyetnya. Bertemulah ia dengan Jasmine, putri raja Agrabah yang secara kebetulan di pasar. 

Pada suatu hari, Aladdin menerobos masuk ke istana dan ketahuan oleh Jafar, Perdana Menteri Agrabah. Aladdin pun kemudian dibawa oleh Jafar ke sebuah gua berisi emas-berlian. Di sana ia menemukan lampu ajaib berisi jin yang dapat mengabulkan tiga permintaan. Bagaimana keseruan Aladdin dengan jin ini? Bagaimana kisah cintanya dengan Jasmine?

1. Film Paling Dinanti

Sebagai salah satu film paling laris Disney dengan pendapatan USD 504.1 Juta pada tahun 1992 dan membuat kamu terngiang-ngiang dengan lagu "A Whole New World" yang masih tren sampai sekarang. Live action yang mulai tahap awal produksi tahun 2016 dengan pemilihan sutradara yang diumumkan saat itu adalah Guy Ritchie. Sebenarnya, aku tak terlalu paham track record si sutradara ini, hehe. Namun, aku jujur, sangat menanti bagaimana keajaiban Genie dihadirkan.

review aladdin 2019 film dinanti

2.  Semi Drama-Musikal

Ketika menonton film ini, kamu bakal nyanyi-nyanyi deh. Tapi, enggak sampai yang gimana banget kok. Solanya masih banyak adegan bicara ketimbang musikal dalam filmya. Pas awal film kamu langsung nyanyi, begitupun dengan adegan-adegan memorable seperti Prince Ali mau ngelamar Jasmine di istana, pas adegan "A Whole New World" dan adegan pamungkas Jasmine yang sebelumnya tidak ada di versi kartunnya.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, Ritchie, sang sutradara sepertinya ingin mempertahankan keajaiban yang diciptakan Genie ini dengan tidak mengubah scene pamungkas dalam film. Aku mencatat ada 3 scene memorable yang menurutku dibuat sangat mirip dengan versi kartunnya. Adegan Aladdin mengusap lampu dan Genie mengenalkan siapa dia, adegan Aladdin jadi Prince Ali dan arak-arakan ke istana, dan tentunya adegan "A Whole New World" yang membawa Aladdin dan Jasmine bepergian dengan karpet terbang.

review aladdin 2019 karakter

3. Karakter yang Enggak Jelek Amat

Oke, jujur ketika Will Smith dihadirkan sebagai Genie aku agak sedikit ragu. Karena dalam bayanganku Will Smith terlalu tidak lucu buat jadi Jin Biru di Aladdin hehe. Untungnya, anggapan itu cukup bisa ditepis (soalnya aku juga enggak serius dan biasa aja sih, hehe). Will Smith bisa mengahdirkan Genie ala Amerika banget tapi, hehe. Dengan gaya rapnya, komedinya dan tentunya ala Will Smith banget kalau ngelucu. 

Selanjutnya, si Aladdin (Mena Massaoud) dan Jasmine (Naomi Scott) yang menurutku juga enggak jelek-jelek amat. Pas dulu lihat trailernya, aku sedikit kecewa. Kan ini latarnya di Timur Tengah atau India gitu, kenapa rasa film Latin-Meksiko ya? Sejujurnya di Naomi ini kalau dilihat akting pas difilmnya enggak jelek-jelek amat tapi aduh mukanya kurang eksotis-Timur Tengah coy, hehe. Kalau di Aladdin sih masih mending agak ada muka India-Timur Tengahnya lah. Ya, walaupun enggak Timur Tengah banget (mukanya) tapi well sih mereka. Disini Jasmine bener-bener dibikin enggak lemah sama sekali layaknya princess-princess gitu, aku suka dong~ (feminist alert, haha).

review aladdin 2019 drama musikal

4. Jasmine yang Enggak Lemah

Nah, ini yang buat aku agak wow ngeliat Aladdin (2019). Soalnya Jasmine benar-benar agak melenceng dari karakternya yang nurut, baik ala princess. Eh tapi dia juga keluar istana deh, memang sudah ada bakat memberontak kayaknya. Mungkin bagi kamu yang ingat versi kartunnya dulu, Jasmine ketika ditahan Jafar setelah ia menjadi Sultan seolah-olah tidak berdaya. Jasmine di sana lebih memilih menunggu Aladdin menyelamatkannya ketimbang ia memberontak. 

Di film ini, Jasmine berhasil memberontak Jafar. Ia meyakinkan Hakim istana untuk lebih percaya kepada Sultan, ayah Jasmin sendiri. Di sini pula lagu "Speachless" dibawakan oleh Naomi dengan bagusnya. Bahkan lagu ini jadi lagu favorit aku sekarang lho! hehe. Buat yang masih penasaran, coba deh nonton filmnya.


*****

Memang, masih banyak kelemahan yang ditunjukkan oleh Aladdin (2019) sekalipun berusaha dilahirkan kembali mengikuti zaman. Mungkin bagi kamu yang tidak terbiasa atau kurang menikmati musikal ala Disney film ini akan terasa hambar atau biasa saja. Berbeda halnya mungkin bagi kamu yang tumbuh dengan kisah-kisah Disney dulu, rasanya percikan keajaiban itu masih bisa terasa (terutama aku yang dulu ngikutin semua princess Disney).

Oh ya film Aladdin versi live action ini untuk 13 tahun ke atas ya!

PS

Komentar