Bagaimana Merayakan Patah Hati?


Photo by Kelly Sikkema on Unsplash

Siapa yang nggak pernah sakit hati selama hidupnya? Kayaknya nggak mungkin, soalnya setiap manusia pasti pernah kecewa. Mau sama orang, keadaan sampai mungkin yang paling sering diri sendiri. Dulu aku masih ingat, patah hati pertamaku adalah waktu SD. Aku pernah diketawain satu sekolah gara-gara sol sepatuku copot di depan umum. Iya, sejak saat itu, dalam benakku dengan pikiran polos ala anak SD-nya dunia serasa nggak adil cuy. Aku nangis dan berhari-hari nggak pengen sekolah. Bahkan momen itu juga yang buat aku nggak bisa akrab dengan teman SD-ku yang lain.

Naik ke masa SMP, patah hatiku adalah ketika suka dengan orang lain tapi ternyata dia nggak suka sama aku. Wow, iya nggak apa-apa aku kuat kok. Tahun ketiga SMP yang akhirnya aku dapat pacar, patah hati keduaku adalah putus dari pacar pertamaku itu. Dan ternyata sampai saat ini aku belum bisa akur. Entah kenapa.

Pas SMA, banyak patah hati bertubi-tubi yang aku alami. Mulai dari mata pelajaran yang nilai jeblok, suka dengan orang lain tapi kena PHP, sampai kecewa dan sangat patah hati karena kalah di sebuah perlombaan. Padahal aku mati-matian perjuangkan itu lomba. Tapi, ya hidup nggak akan pernah tau  rasanya senang kalau nggak tahu rasanya sakit bukan?

Beranjak dewasa, aku jadi tahu kalau patah hati tuh niscaya. Apalagi pas kuliah, wow entah udah berapa kali patah hati dan kecewa yang aku alami. Mulai dari diputusin pacar pas skripsian, skripsi dicoret BAB II (literally semuanya!), sampai orang tua yang nggak setuju dengan kerjaan pertama. Banyak banget deh, awal 20-an tahun aku merasa kayak Tuhan bener-bener nggak adil. Meski sekarang ini di umurku yang 23 tahun, aku udah agak tenang dan kalem nanggepinnya. Ya, meskipun kadang masih suka emosional kalau ingat beberapa.


Aku pun sebagai manusia nggak akan nyalahin orang buat sedih, kecewa, merana ketika patah hati. Kenapa? Karena itu perlu! Yang aku baca di cewekbanget.id ternyata kita perlu ngegalau dulu lho. Jadi emang jangan buru-buru buat bangkit, kalau memang masih sedih YA NGGAK APA-APA, toh kita memang diberkahi sama Tuhan punya perasaan sedih kan?

Di artikel itu, satu hingga dua bulan adalah waktu yang dibutuhkan rata-rata manusia buat merana. Anda mau ngegalau, mau nangis, mau gimana kek NGGAK APA-APA. Kecuali ingin mengakhiri hidup tentunya, BIG NO! Please if you really need help, call somebody. Kita memang perlu ada di stage itu. Kita perlu merasa sedih dulu, menerima kalau kita memang lagi sakit. Jadi, jangan  terlalu memaksakan kembali ceria setelah patah hati cepat-cepat. Apalagi yang habis putus, seolah-olah biar cepet keliatan UDAH MOVE ON, nggak apa-apa girls. Take yout time!

Iya jadi, di sini aku cuman mau bilang nggak apa-apa untuk terlihat tidak baik-baik saja. Toh, kita juga manusia. Sedih ya sedih aja, terus kalau sedihnya udah berkurang cerita ke orang lain yang kamu percaya dan bisa memberi semangat positif. Biar kamu tetap mendapat hal baik ketika kamu ada di titik tersedih sekalipun.

Ngomong-ngomong ketika aku nulis ini, aku juga lagi patah hati kok :")

PS

Komentar

  1. Setuju banget mbk, kita juga butuh waktu buat ngegalau, biar ngegalaunya nggak nyisa-nyisa...😁

    BalasHapus
  2. Bener banget sih. Gak usah sok kuat pake bilang 'aku baik-baik saja', padahal aslinya gak sama sekali. Hehe
    Jujur sama diri sendiri itu penting! ��

    BalasHapus

Posting Komentar