Sejarah Uang yang Menarik untuk Diulik

Sejarah uang di Indonesia - putrisyifan.com

Untuk merayakan Hari Uang yang jatuh tanggal 30 Oktober lalu, aku menyempatkan diri untuk bikin artikel soal sejarah uang di Indonesia. Jadi, inilah perjalanan panjang uang di Indonesia hingga bentuknya seperti ada di dompetmu saat ini.

Uang sendiri menjadi hal penting di kehidupan kita. Hal ini karena uang berperan sebagai alat tukar untuk memenuhi segala kebutuhan hidup. Oleh karenanya, banyak orang yang rela bekerja keras untuk mengumpulkan banyak uang agar kebutuhannya selalu tercukupi. Di Indonesia sendiri, mata uang yang berlaku saat ini adalah Rupiah. Eits, ternyata alat tukar resmi yang berlaku di Indonesia ini ternyata punya jalan yang panjang hingga sampai pada tahtanya saat ini. Bagaimana sejarah produk uang hingga menjadi Rupiah?

Sejarah Uang Abad ke-8 sampai ke-16 Masehi

Seperti yang sudah umum diketahui masyarakat, bahwa kegiatan jual-beli sudah ada di muka bumi sejak lama. Sejak zaman kerajaan Hindu-Budha berjaya di Indonesia praktik jual-beli sudah umum dilakukan. Istilah Wli yang dalam bahasa Jawa Kuno ditemukan dalam prasasti pada tahun 878 M. Begitu juga istilah Sansekerta, Wyaya, ditemukan pada tahun yang sama dalam prasasti lain.

Nah, menginjak abad ke-9 hingga awal abad ke-10 masehi mata uang perak dan emas telah umum digunakan saat itu untuk bertransaksi. Meskipun penggunaannya masih terbatas karena dipengaruhi oleh logam emas dan perak yang sangat berharga. Biasanya penggunaan mata uang perak dan emas ini dilakukan untuk membeli barang yang sangat berharga seperti kerbau, kambing dan hewan ternak lain atau bahan pokok yang sangat langka. 

Kurun waktu yang sama yaitu abad ke-9 tepatnya di Kerajaan Mataram, beredar mata uang yang disebut Gobog dan Krisnala. Mata uang tersebut terbuat dari perak, emas dan tembaga yang digunakan sebagai alat tukar sehari-hari. Tak hanya Kerajaan Mataram, ternyata Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 pun menggunakan Gobog dan Krisnala sebagai alat tukar lho.

Fakta yang unik lagi, ternyata selain menggunakan koin emas dan perak, untaian manik-manik juga dipakai sebagai alat tukar. Manik-manik ini diproduksi oleh kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan menyebar hingga pulau Jawa, Kalimantan sampai Indonesia bagian timur seperti Maluku.

Sejarah Uang Abad ke-17 sampai ke-18 Masehi

Masa ke masa, invasi untuk menjelajah dunia untuk memperluas daratan pun mulai dilakukan. Hingga waktunya orang Eropa menginjakkan kaki di Nusantara. Dalam kurun waktu 1600-1700 masehi atau abad ke-16 sampai abad ke-17 awal, orang Eropa membawa koin emas dari Portugal dan Venesia, dolar perak dari Bolivia, Peru dan Meksiko yang kemudian menjadi alat tukar utama selama beberapa waktu. Lalu, perusahaan Hindia-Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie atau disingkat VOC) pada abad ke-17 mengimpor koin perak untuk membantu perdagangan di masa tersebut. 

Saat itu, karena kurangnya pasokan timah akhirnya pada tahun 1924 perusahaan itu berinisiatif membuat koin tembaga sendiri. Koin ini dicetak di enam provinsi di Belanda dan diimpor dalam jumlah besar pada abad ke-18 hingga ke-19. Uang koin kolonial jadi alat tukar baru menggantikan Cassie Cina. Hingga pada kurun waktu 1748-1752 muncul uang kertas pertama berkat pembentukan De Bank Courant dan Bank van Leening. Setelah VOC bangkrut pada 31 Desember 1799, Republik Batavia mengeluarkan uang sendiri dan membuat koin gulden perak pada tahun 1802. 

Sejarah Uang Abad ke-19

- Tahun 1940-1945

Waktu pun berlalu, Perang Dunia mencetus dan membuat pemerintahan Belanda dalam kondisi lemah. Hingga akhirnya Jepang datang ke Indonesia dan menginvasi pemerintahan Hindia-Belanda. Jepang datang membawa mata uang sendiri termasuk uang lokal dan gulden, lalu melikuidasi bank-bank, termasuk De Javasche Bank. Setelahnya, terbitlah uang kertas yang dikeluarkan oleh De Japansche Regeering dan menjadi alat pembayaran yang sah sejak Maret 1942. Di tahun 1944, Jepang mengeluarkan uang yang dicetak dalam bahasa Indonesia. 

Sayangnya, pada akhir perang, sekutu Netherlands Indies Civil Administration (NICA) mulai mengambil alih kendali atas Indonesia dan mencetak gulden NICA tahun 1943 yang disebarkan di Papua, Maluku dan Kalimantan. Gulden NICA ini akhirnya sampai di Pulau Jawa di mana saat itu Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya (tahun 1946). 

- Tahun 1945-1949, terbitnya ORI (Oeank Republik Indonesia)

Menginjak tahun 1945 setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan, Indonesia kala itu belum punya mata uang sendiri. Mata uang yang berlaku masih bercampur mulai dari uang peninggalan Hindia Belanda, uang Jepang dan mata uang De Javasche Bank.

Sekutu yang tergabung dalam NICA kembali menyerang Indonesia pada 29 September 1945. Mereka juga menerbitkan uang NICA yang memicu inflasi serta mengakibatkan kekacauan ekonomi di Indonesia.

Untuk menanggulangi hal ini, pada 2 Oktober 1945 pemerintah mengeluarkan Maklumat Pemerintah Republik Indonesia yang menetapkan bahwa uang NICA tidak berlaku lagi di seluruh wilayah Indonesia. Pemerintah terus menggeber produksi mata uang sendiri yaitu ORI (Oeank Republik Indonesia).

Penduduk Indonesia mendapat pengumuman tentang ORI dari pidato Wakil Presiden Mohammad Hatta yang disiarkan melalui RRI Yogyakarta pada 29 Oktober 1946. Pidato yang berlangsung sekitar pukul 20.00 menegaskan bahwa ORI mulai berlaku pukul 00.00 tengah malam atau beberapa jam setelah pidatonya.

ORI emisi 1 terbit dalam delapan seri uang kertas yaitu satu sen, lima sen, sepuluh sen, setengah rupiah, satu rupiah, lima rupiah, sepuluh rupiah, dan seratus rupiah.

Ngomong-ngomong, ORI ini punya sisi depan dan belakang yang bergambar ciri khas Indonesia lho yaitu keris yang terhunus dan teks Undang-Undang Dasar 1945. Pada tiap lembar yang beredar, terdapat tanda tangan Menteri Keuangan yang menjabat dalam kurun waktu 26 September 1945-14 November 1945 yakni A. A. Maramis.

Proses pengenalan ORI ke seluruh Indonesia cukup terjal perjalanannya. Berbagai faktor penyebabnya yakni keamanan mengingat beberapa wilayah Indonesia masih diduduki Belanda saat itu. Juga, sulitnya pendistribusian mata uang ini ke masyarakat karena bentuk geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

Akhirnya, tahun 1947 terbitlah Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA) di mana pemerintah memberikan otoritas kepada daerah-daerah tertentu untuk mengeluarkan uangnya sendiri. 

Selain ORI seri I, adapula ORI lain yang diproduksi yakni ORI II, III, IV dan ORI Baru. ORI II diterbitkan di Yogyakarta pada 1 Januari 1947. Sedangkan ORI III diterbitkan di kota yang sama pada 26 Juli 1947. Sementara ORI Baru terbit pada peringatan Hari Kemerdekaan tahun 1949.

- Tahun 1950, Mata Uang Republik Indonesia Serikat

Hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 23 Agustus-2 November 1949, Indonesia baru diakui kedaulatannya oleh Belanda pada 27 Desember 1949. Sebagai upaya menyeragamkan uang di wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS), pada 1 Januari 1950 diumumkan bahwa yang mata uang yang sah adalah uang federal. 

Berkat kebijakan itu, akhirnya mulai 27 Maret 1950 ORI dan ORIDA ditukarkan dengan uang baru hasil terbitan De Javasche Bank yaitu Uang Republik Indonesia Serikat (RIS). Karena RIS hanya berlangsung singkat, masa edar uang kertas RIS juga tidak lama atau tepatnya hingga 17 Agustus 1950 ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk kembali.

- Tahun 1951-1960, Proses Perubahan Menjadi Uang Rupiah

Tahun 1951 menjadi cikal-bakal lahirnya Bank Indonesia (BI) yang merupakan nasionalisasi dari De Javasche Bank sebagai bank sentral. Di tahun 1952 hingga 1953, BI mulai merilis uang kertas mulai dari Rp 1 hingga Rp 100. Ini menandai periode baru dalam sejarah Rupiah dimana penerbitan dan peredaran uang kertas Rupiah kini menjadi tugas Bank Indonesia. Sedangkan uang koin masih ditangani oleh Pemerintah secara terpisah.

Ternyata, ada fakta unik lho dalam penerbitan uang Rupiah ini. Saat itu ada dua macam uang Rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah yakni uang yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia (Kementerian Keuangan) dan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Pemerintah RI menerbitkan uang kertas dan logam pecahan di bawah Rp 5, sedangkan BI menerbitkan uang kertas dalam pecahan Rp 5 ke atas.

Fakta uniknya lagi, hari lahir BI yang menggantikan De Javasche Bank sebagai bank sentral diperingati setiap tanggal 1 Juli karena pada tanggal yang sama tahun 1953 diberlakukan Undang-Undang Pokok Bank Indonesia tahun 1953.

BI  pada masa Orde Baru diberi wewenang untuk mencetak dan menerbitkan uang, baik dalam bentuk koin atau kertas, serta mengatur peredarannya. Uang inilah yang terus berkembang menjadi alat pembayaran yang diterima hingga kini. Sekedar info bahwa, asal nama Rupiah sendiri berasal dari rupee (India) dan rupia (Mongolia) yang berarti perak.

- Tahun 1960-2005

Baru menerbitkan uangnya sendiri, Indonesia sudah harus dihadapkan dengan inflasi hebat yang naik hingga 27% di tahun 1961. Bahkan di tahun berikutnya melonjak hingga 174% dan menjadi 600% di tahun 1965. Wow! Dalam masa ini beberapa nominal baru ditambahkan. Pada tahun 1970, BI menambahkan nominal Rp 5.000 dan Rp 10.000 untuk uang kertas baru. Setelah inflasi terkendali, koin rupiah dikenalkan kembali mulai Rp 1 hingga Rp 100. Di September 1975, uang kertas pecahan Rp100 ditarik permanen dari peredaran.

Ada beberapa fakta unik soal peredaran uang rupiah dalam kurun waktu hingga 1991. Salah satunya adalah pemerintah pernah menerbitkan Rupiah Irian Barat tahun 1960, untuk menggantikan gulden yang beredar di sana. Kemudian, pada 18 Februari 1971 pemerintah baru menetapkan jika Rupiah sah berlaku di provinsi Irian Barat. Kemudian, pada tahun 1974 BI mengeluarkan uang logam Rupiah Khusus seri Cagar Alam pecahan Rp 100.000.

Tahun 2000, uang kerta Rp 100 dan Rp 500 resmi dihentikan produksinya. Namun, penghentian ini selaras dengan pecahan uang baru Rp 1.000 dan Rp 5.000. Kemudian, tahun 2004 pecahan uang Rp 20.000 dikenalkan. Tahun selanjutnya, BI mendesain ulang pecahan uang kertas Rp 10.000 dan Rp 50.000.

Sejarah Uang: Rupiah Emisi 2016

Pada Desember 2016, BI mengeluarkan 11 uang rupiah Emisi 2016 dengan gambar pahlawan-pahlawan baru. Saat itu diluncurkan oleh Presiden RI Joko Widodo yang terdiri atas tujuh pecahan uang rupiah kertas dan empat pecahan uang rupiah logam. Uang rupiah baru ini akan menampilkan 12 gambar pahlawan nasional.

Uang rupiah kertas yang diterbitkan yakni Rp 100.000, Rp 50.000, Rp 20.000, Rp 10.000, Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1.000. Sedangkan uang rupiah logam yaitu Rp 1.000, Rp 500, Rp 200, dan Rp 100.

Dari 12 gambar pahlawan yang menjadi latar belakangnya, yakni Ir. Soekarno, Dr (HC) Drs. Mohammad Hatta, Dr. G.S.S.J. Ratulangi, Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, Frans Kaisiepo, Dr. K.H. Idham Chalid, Mohammad Hoesni Thamrin, Tjut Meutiah, I Gusti Ketut Pudja, Letnan Jenderal TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang, Dr. Tjiptomangunkusumo dan Prof.Dr.Ir. Herman Johanes.

Uang rupiah yang lahir dengan Emisi 2016 memiliki desain yang simpel dengan perpaduan warna yang yang lebih terang dari cetakan sebelumnya. Selain itu, keamanan dari uang Rupiah emisi baru ini juga dinilai cukup tinggi dari sebelumnya karena menerapkan 3 level pengamanan. Bahkan uang Rupiah Emisi 2016 diklaim sebagai salah satu mata uang yang memiliki pengamanan tertinggi di dunia.

PS

Komentar