Untuk aku, di 2019: Masih Belajar Ikhlas

masih belajar ikhlas oleh putrisyifan.com
Photo by Melanie Pongratz on Unsplash
Tahun 2019 jadi tahun yang cukup berat dari segi mental. Bagaimana pergolakan batin soal karier jadi hal yang paling misteri. Belum lagi aku yang masih suka labil soal maunya apa dan gimana. Anaknya emang bosenan, kadang bingung bedain ini bosen atau emang bener-bener nggak cocok.

Pekerjaan pertamaku bisa dibilang cukup sempurna. Tapi yang nggak bisa aku pecahkan bahkan sampai sekarang, kalau memikirkan pekerjaan pertamaku itu selalu ada kata “tapi”. Entah kenapa. Padahal aku merasa bahagia-bahagia aja. Meski akhirnya aku memutuskan buat resign dengan keadaan setengah-setengah. Kata “tapi” yang selalu ada itu mungkin jadi pertanda aku nggak bisa ikhlas di sana. Masih ada yang tertahan dari diriku yang nggak bisa dilepas. Adanya “tapi” itu sangat mengganggu, sumpah.

Akhirnya aku menemukan pekerjaan kedua yang sebenarnya nggak jauh beda dari yang pertama. Jujur awalnya ke pekerjaan keduaku ini sekedar pelarian karena bosan dan takut “nggak ada jajan” tapi entah kenapa masih betah sampai sekarang. Bahkan lebih lama dari pekerjaanku yang pertama. Seminggu kerasa cepet banget. Mungkin karena aku juga ambil kuliah S1 (lagi) jadi ya ritmenya cepat dengan kegiatan yang berbeda-beda. Ceritanya ada di tulisanku yang sebelumnya alasan kenapa memilih S1 lagi.

Hari ini, tepat aku menulis ini (24/12/2019) ada sedikit obrolan di DM Instagramku dengan Mutia, salah satu teman yang baru kenalan pas kelas Tirto di Bandung tahun 2018 lalu. Katanya, “ego kita terlalu besar saat ini dibandingkan dengan IKHLAS”. Sumpah, aku mikir bentar karena bingung mau jawab apa. Otakku seolah berhenti sejenak. Beneran.

Sambil melewati Tol Jakarta-Cikampek yang baru, aku mikir dan akhirnya berusaha ngaku ke diriku sendiri kalau iya Syifa, kamu belum ikhlas dengan semuanya. Kamu marah dengan diri kamu sendiri, kamu marah dengan dunia karena nggak sesuai rencana, kamu marah dengan takdir akan hidup dan kenyataannya. Dan sejujurnya, mungkin aku nggak sebaik itu untuk gampang ikhlas akan sesuatu hal.

Iya aku menyesal keluar dari pekerjaanku sebelumnya, tapi aku juga sadar kalau terus nyesel kapan aku mau gerak? Untungnya dengan padetnya jadwal aku juga jadi lama-lama bisa reda marah ke diri aku sendiri, meski belum sepenuhnya. Kerja-kuliah-freelance emang ngebuat waktu senang-senang aku berkurang tapi aku yakin bakal panen hasilnya nanti. Eh ya btw, aku juga freelance lho jadi Content Manager di salah satu financial Advisor gitu. SKIP

Kadang aku mikir aku gila, apasih yang aku kejar? Mungkin aku emang lagi bingung, aku lagi merangkak buat tau cara kerja dunia ini kayak apa. Ego aku masih tinggi, emosi aku masih labil. Tapi nggak apa-apa, aku berusaha berdamai dengan hal itu. Aku yakin mengelola hal itu butuh waktu, butuh ditempa. Buat saat ini aku cuman pengen ikhlas sama jalan yang udah dikasih Tuhan apa adanya. 

Satu lagi, Syifa di 2019 sudah sangat bekerja keras. Sebagai Syifa sendiri aku bangga dengan hal ini, ternyata kamu cukup kuat juga. Semoga tahun depan lebih bersahabat ya Syif, mari kira kita hadapi bersama. 

Komentar

  1. Aku pernah di fase yang sama, ngejar beasiswa ngalor ngidul. Banyak kerjaan dari ngajar, ngurus franchise, bikin catering, masih juga weekend nganter turis mendaki. Sampe nggak tau arah dan tujuanku kemana. Banyak yang pengen dilakukan. Sampai berada di titik aku merelakan mengajar, berusaha fokus dengan 1 hal yg ingin ku kembangkan. Stop multitasking lalu belajar tentang ikigai dan mindfulness. Akhirnya aku merasa tenang dan menikmati pola hidupku yang sekarang.

    BalasHapus

Posting Komentar