Soal Quarter-Life Crisis: Apa Perlu Hidup Selalu Punya Tujuan?

Photo by Tamba Budiarsana from Pexels
Katanya, pas umur 20-an awal bakal nemuin titik di mana kamu merasa serba bimbang. Istilah kerennya "quarter-life crisis". Ada banyak kegalauan yang bakal dirasain mulai dari urusan karier, pilihan hidup sampai jodoh. 

Aku mengutip dari sebuah jurnal karya Alfiesyahrianta Habibie, Nandy Agustin Syakarofath, dan Zainul Anwar yang menuliskan "individu yang di dalam melewati tahapan perkembangannya tidak mampu merespons dengan baik berbagai persoalan yang dihadapi, diprediksi akan mengalami berbagai masalah psikologis, merasa terombang-ambing dalam ketidakpastian dan mengalami krisis emosional atau yang biasa disebut dengan quarter-life crisis. (Robbins dan Wilner, 2001; Atwood & Scholtz, 2008). 

Menurut Nash dan Murray (2010) quarter-life crisis adalah masalah terkait mimpi dan harapan, tantangan kepentingan akademis, agama dan spiritualitasnya, serta kehidupan pekerjaan dan karier. Permasalahan-permasalahan tersebut muncul ketika individu masuk pada usia 18-28 tahun atau ketika telah menyelesaikan pendidikan menengah, contohnya mahasiswa. Menurut Alifandi (2016) lompatan akademis yang sering dialami oleh mahasiswa ke dunia kerja terkadang menimbulkan luka dan ketidakstabilan emosi sehingga mengalami krisis emosional.

Disini pasti banyak pertanyaan ke diri sendiri. Mulai dari "duh kenapa aku nggak seperti dia?", "kenapa gerakku lambat?", "kenapa semua usaha rasanya nggak pernah cukup?" dan sebagainya. Jangan salah, bahkan aku pun belum bisa lepas dari pikiran-pikiran itu. 

Aku sendiri berasal dari lingkungan kampus yang super nyantai hehe. Teman-temanku asik, saling ngedukung dan banyak hal. Bahkan kalau bisa, jujur aku masih ingin kembali ke masa kuliahku. Tapi kan nggak bisa, karena hidup terus jalan. Mau nggak mau aku dipaksa buat menyesuaikan.

Berhasil? Tidak selalu. Banyak gagal malahan. Kadang bisa sampai menyalahkan diri sendiri karena sering nggak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Aku tipe orang yang suka membuat target dan goals yang ingin aku capai untuk diriku sendiri. Dan yaaa....seringnya aku kecewa dengan hal itu. (Memang anaknya ribet banget, hahah)

Sejalan dengan itu, aku jadi sering stres nggak jelas. Kadang nggak bisa tidur 48 jam, kadang anxiety sendiri sampai bisa ngurung diri karena nggak mau ketemu orang, dan yang paling sering nangis nggak tau kenapa. Aku selalu mikir hidup itu harus punya tujuan, baik jangka pendek dan jangka panjang. Di mana kadang, target yang aku tentukan bisa saling berhubungan dengan peran orang lain. Kalau udah gini kadang lebih stres! Karena aku jadi punya ekspektasi ke orang tersebut agar menyukseskan goals aku.

“Tidak ada situati yang terlalu berat sampai kita tidak mampu mengendalikan interpretasi pribadi.”

Itu adalah kutipan yang aku ambil dari buku Filosofi Teras. Dalam buku itu, aku banyak tahu kalau seharusnya (mungkin) aku nggak usah banyak berpikir soal hal yang nggak bisa aku kendaliin. Aku harusnya lebih fokus sama diriku sendiri, ngebuat diriku bahagia dan menikmati apa yang aku jalani saat ini.

Gimana caranya, Syifa nikmati hidup atau hidup secara sepenuhnya? Jawabannya, aku belum tau. Karena akupun kadang merasa nggak bahagia. Kadang bahagia banget, hehe aneh memang. Tapi ini harus aku akui kalau kadang hidup ya... mungkin cuman buat dijalani aja. 

Hal yang bisa aku kendalikan sekarang adalah ekpektasi, baik terhadap diriku atau orang lain. Satu sisi aku harus jujur kalau aku butuh tujuan. Tapi ketika jalan menuju ke sana, ya aku harus terima dan mau nyoba lagi kalau itu nggak berhasil. Aku juga harus bisa lapang, kalau orang lain nggak sesuai dengan apa yang aku harapkan.

Ketika aku coba googling aku nggak sendirian kok. Rasa ini wajar dialami, lebay? Ya nggak apa-apa. Hidup kadang harus punya tujuan, tapi nggak semua tujuan hidup mungkin bisa kamu capai. Kadang memang ya hidup cuman buat hidup aja, dijalani. 

Sumber:
  • Alifandi, (2016). Kelelahan emosi (emotional exhaustion) pada mahasiswa yang bekerja paruh waktu (studi pada mahasiswa Universitas Negeri Semarang yang bekerja paruh waktu) (Skripsi tidak dipublikasikan). Semarang: Universitas Negeri Semarang.
  • Atwood, J. D., & Scholtz, C. (2008). The quarter-life time period: An age of indulgence, crisis or both? Contemporary Family Therapy, 30(4), 233–250. doi: 10.1007/s10591-008-9066-2.
  • Nash, R.J., & Murray, M.C. (2010). Helping college students find purpose: The campus guide to meaning-making. San Francisco, CA: Jossey-Bass. 
  • Robbins, A & Wilner, A. (2001). Quarterlife crisis: The unique challenges of life in your twenties. New York: Penguin Putnam, Inc.
  • GADJAH MADA JOURNAL OF PSYCHOLOGY ISSN 2407-7798 (Online) VOLUME 5, NO. 2, 2019: 129-138

Komentar