Menjadi KPopers, BTS dan Penerimaan Diri

Credit: Facebook Big Hit Entertaiment

Gue sejujurnya belum pantes menyebut gue KPopers veteran, karena gue yakin masih banyak orang yang sudah terjun ke per-idolan ini lebih lama. Gue masih inget, dulu pertama kali gue tau per-Koreaan duniawi ini gara-gara Running Man. Temen kelas gue minjemin hardisk isinya reality show Running Man tahun 2011. Dari sana gue malah suka musiknya, dramanya, kebudayaannya. 

FYI: Sampai sekarang gue masih nonton Running Man, gila 9 tahun nggak kerasa banget (gue nulis ini tahun 2020).

Boy grup pertama yang gue suka adalah Super Junior (SUJU), masih inget banget suka mereka gara-gara album Mr. Simple. Dari sana gue beli lah album-nya. Jujur ya, dari dulu sebelum tahun 2011 gue tuh nggak pernah punya grup idola. Mau Hollywood, mau dalam negeri, dangdut, kagak ada. Pas tahun 2011 gue pertama kali ngerasain punya idola.

Perjalanan gue ngebucin sama SUJU cukup lama sampai 2015. Ini beberapa temen SMA gue pasti annoying banget karena gue ngomongin Suju mulu tiap hari. Indah banget sih pengalaman gue nge-fans sama Suju. Rela nabung setahun buat bisa nonton konser doi di Indonesia. Akhirnya terlaksana, tahun 2012 gue bisa nonton Suju di Jakarta. Umur 17 tahun gue pergi ngebucin ke Jakarta, SENDIRIAN :)) Jiwa berjuang gue tuh udah dari dulu kayaknya.

Lah, kok Suju? Bukannya judulnya BTS?!!

Jadi gini......

Gue ngefans ke SUJU sampai 2015 (sekalipun juga sama-sama ngefans sama BIGBANG saat itu gara-gara album MADE) tapi selama gue udah kenala Koreaan, gue pun mantengin grup yang lain. Infinite, EXO, Apink, MBLAQ, ZE:A, BIGBANG, 2NE1, 2PM, 2AM, GOT7, BOYFRIEND, B1A4 termasuk BTS banyak dah pokoknya.

Gue udah tahu BTS itu dari tahun 2014, waktu itu dia ngeluarin album Skool Luv Affair (kalau nggak salah) pokoknya lagunya Boy in Luv itu gue banget, terus War of Hormone. Tapi Sebelum album ini, alarm bangun gue waktu itu lagu No More Dream, yang mana adalah lagu debut mereka. Jadi anggap aja gue udah notice mereka itu dari tahun 2013/2014-an, cuman belum bucin aja.

ALAY ADALAH NAMA TENGAHKU

Dulu, pas gue SMP-SMA suka Korea itu dibilang alay. Thats why, judulnya ini. Kata ALAY, APAAN SIH SUKANYA SAMA PLASTIK itu ribuan kali gue dengar sejak gue suka Kpop. Alhamdulillah.... ya sakit hati tapi gue kayak ya udahlah ya, alhamdulillah bertahan sampai sekarang :)) bangga gue. 

Dulu pas SMA yang suka Korea di kelas, tebak? CUMAN GUE DOANG :)) satu-satunya yang menemani per-Koreaan gue ya temen kosan gue alias ANA dan OKTI, kalian adalah penyelamat hindupku. Untungnya ada mereka berdua jadi gue masih bisa tersalurkan kebucinan Korea gue saat itu. Karena Akhirnya ya allah ada yang memahamiku juga.

Gue pernah baca buku judulnya Map of The Soul dari Muray Stein (ini jadi salah satu inspirasi album BTS juga, haha). Dari beberapa kutipan dibuku, ini ada yang dekat banget dengan pengalaman gue. Mungkin di umur gue sekarang udah nggak peduli ya soal omongan orang, udah bodo amat. Tapi, ketika gue melihat diri gue dulu yang mesih 16-17 tahun itu super insecure dengan pilihan gue suka KPop gimana.

Gue hanya anak biasa yang punya selera musik beda. Waktu itu 1D lagi hits banget, semua temen cewek gue hampir semua suka 1D. Cuman gue kan paling beda, hanya segelintir temen gue yang juga suka KPop. Dalam satu bab buku itu, ada namanya PERSONA yang merupakan muka pertama kita untuk ditunjukkan kepada orang lain. Ini pernah terjadi, karena saking insecure-nya gue pernah pura-pura suka 1D dong :)) tapi memang suka Zayn sih hehe maksudnya ikutan nge-ship gitu. 

Cuman ya balik lagi, ketika itu pura-pura pasti nggak akan bertahan lama. Pada akhirnya semua hal yang datang ke gue sebagai konsekuensi gue suka KPop ya gue 'makan sendiri'. Perdebatan waktu itu keluarga gue kayak resistant juga, sekalipun pada akhirnya sekarang sudah menerima gue apa adanya. Ah panjang banget ini ceritanya.....

Untuk menemukan THE SELF dalam buku Map of The Soul, setiap orang perlu merasakan berbagai penolakan dalam dirinya. Sampai akhirnya bisa menerima kalau diri seutuhnya ya seperti apa yang ia lihat dari benaknya yang paling dalam. Tujuan menemukan THE SELF ini menurut gue mirip ketika gue baca The Alchemist-nya Paulo Coelho (The Alchemist itu lebih ke perjalanan spiritual ya, yang gue ambil itu adalah titik kepercayaan diri dengan kayakinannya).

Bagi gue menemukan diri gue suka KPop tuh sedalam itu lho :)) karena gue pernah dihadapkan berbagai penolakan. Temen, keluarga sampai diri sendiri. Ending-nya, ya sadar juga bahwa akhirnya menerima diri kalau gue Kpopers itu butuh proses. Sekarang, jujur gue malah bangga. Its been hard to stay in one genre all the time, but I did it. Ketika gue suka KPop bukan berarti gue aneh, cuman ya selera musik gue aja yang beda.

Untuk sampai bilang kayak gitu ke diri gue sendiri tuh asli cuy, baru sekarang hahaha.

For all the BLOOD, SWEAT AND TEARS

Bisa dibilang tahun 2016 gue mulai melihat bahwa ini boyband alias BTS punya sesuatu hal yang ah, unik lah gitu. Pas dengerin lagu Blood, Sweat and Tears pertahanan gue buat suka SUJU dan BIGBANG musnah.

Sumpah lagu ini gue bingung deskripsiinnya. Intinya catchy, gue suka BTS bukan karena choreo-nya (temen-temen gue suka BTS gara-gara ini kebanyakan). Itu lagu aneh deh menurut gue, entah kenapa maknanya di gue emosional banget haha.

Gue makin jatuh cinta ketika BTS meluncurkan lagu 'Love Yourself: Answer' ini album encouraging banget buat gue. Untuk lagu dengan judul yang sama, wah gila itu gue nangis sih kalau lagi down denger ini.

You've shown me I have reasons, I should love my self.

Sampai sekarang jujur gue belum bisa mencintai diri gue sendiri. Bahkan gue pun nggak bisa mengapresiasi apa saja hal-hal yang sudah gue lakukan. Tapi lewat lagu ini, agak lebay tapi nggak deng, gue selalu percaya kalau gue berhak dapat hal-hal baik di dunia ini. Its make me really happy, dan gue tau kenapa banyak orang sangat terpengaruh sama trilogi album Love Yourself punya Bantan. 

Hal yang disuarakan Bangtan ini sudah jadi keresahan umat dunia yang berusia muda. Soal penerimaan diri, bingung sama jati diri, pertanyaan soal mimpi dan hidup dan yang mungkin terdekat bagi gue adalah quarter life of crisis. Pengalaman yang gue sebutkan tadi kayak bahasa universal, ketika lo baca artikel nih manusia usia muda pasti melewati tahap 'galau' ini. Bangtan ngambil perspektif ini, karena mereka juga umurnya muda otomatis mereka bisa ngerasain juga. Mereka bisa bersuara untuk hal-hal yang selama ini kurang populer diangkat untuk musik KPop. 

Selama hampi 10 tahun gue suka Kpop, jarang ada yang ngangkat soal isu kesehatan mental sampai kritik politik. BTS berani ambil pasar ini dan ya sukses, hehe!

Oh ya, sekarang isu mental health juga sedang 'galak-galaknya'. Jadi ya, bagi gue kesuksesan Bangtan juga banyak dukungannya. Ibaratnya, right time on right momen in the right place, semuanya tepat. Thats why lagu mereka mendunia. Meskipun gue yakin marketing mereka juga beperan besar di sini, hihi. 

Renjana untuk Oppa

Seperti semua perjalanan hidup yang dianggap penting, menyukai KPop adalah salah satu diantaranya. Menyukai SUJU, BIGBANG dan kemudian BTS tuh kayak melihat diri gue bertumbuh. Gue suka SUJU saat gue remaja yang lagi masanya kenal cinta monyet. Gue suka BIGBANG karena lagu-lagunya artsy banget dan performance mereka di panggung udah berasa konser sekalipun cuman tampil 1-2 lagu di acara. 

Akhirnya suka BTS, karena gue merasa menemukan hal yang ngebuat gue seneng dan campur aduk dengan musiknya. Perjalanan menyukai musik memang selera masing-masing orang, tapi menemukan diri lo bertumbuh dengan musik yang lo suka sangat berpengaruh bagi gue. Its how you express your self to other. Its how you wanna known as 'who' bla bla bla.

Gue juga mungkin nanti bisa berpindah haluan dari Kpopers (sekalipun gue yakin kayaknya nggak, haha). Gairah musik gue memang kayaknya mentok di sini, buat Oppa dan Eonni, buat jadi penggemar KPop. Jadi untuk calon pendamping hidup gue nanti, akan gue pastikan dia baca ini :)) HAHA. 

xoxo,
PS

Komentar